Jumat, 25 Juli 2008

"Dia Membuatku Slalu Terjaga"

aku yang hina mengais-ngais hari tuk lontarkan maaf.
melukis malam dalam kertas buram,
membodohi diri dengan segumpal rasa dalam kata
dan mengapa ia tak juga mengerti.
perjalanan ini harus segera diakhiri,
atau semakin hari semakin tebal balutan sesal.
dan mengapa ia tak juga mengerti.
semua sudah ku sodorkan untuknya,
seperti proposal tuk sidang dewan guru.
dan mengapa ia tak juga mau mengerti.
ini tak baik!
untukmu,
untukku.
lalu mengapa tak kau padamkan lilin agar lelap bisa menjemputmu.
aku tak mau membuatmu terbakar.
janganlah membuat ini semakin sukar.
aku mudah sekali gusar.
argh..,,
mungkin tak akan cukup waktu,
tak akan ada lagi kata.
aku menyesal..

Mang Diman Temanku

begitu panjang hari karena kita terus berlari,
mencari tempat melepas letih,
aku tahu semua terlihat begitu sederhana,
hanya saja kita merasanya lebih.

bedeng-bedeng itu kosong,
karena bukan untukmu,
dan tidak pula untuk ku singgahi malam ini.
aku tak mau bila akhirnya tak bisa terjelaskan.
aku tak mau berani bukan karena aku takut.,
aku hanya menjaga.

dan kuharap semua akan baik-baik saja.
semoga akan baik-baik saja.

Selasa, 15 Juli 2008

Lembah Itu

aku muak dengan neraca-neraca ini.
mengapa semua harus diukur, dinilai, dan penghargaa.
dan semua menganggapku sia-sia,
karena jalan ini terlalu curam tuk ku daki,

bukan berarti ini tak mungkin selesai.
pencapain itu memiliki arti tersendiri untkku.
mereka yang menilai ini semua cukup tak juga mengerti;
meski busa di mulutku belum mengering.

aku tahu,
terlalu banyak mata miris terhadapku.
aku tahu,
hampir semua jemu.
yang ku harap satu hati kan mengerti dan dampingi semua ini.