Minggu, 10 Agustus 2008

Memo Tuk Sahabat Ku

sahabat,
terlalu jauh khayalmu mengembara.
pencarianmu takkan usai,,
percuma kau teriak, percuma kau maki langit.
suaramu takkan memecah selaput ari,
apalagi kumpulan semen..
lebih baik kau ratapi waktu yang telah gerogoti langkahmu,
bicaralah dengan rasa dan rasalah apa yang terpendam dalam setumpuk ego yang mungkin sengaja kau tampik.
benar malam semakin lapar dan serigala tak lagi berikan kita ketenangan dalam mimpi! percayalah kakimu perkasa, mampu berikan cetak biru di semua lembar hitam itu.
sahabat berhentilah mencari domba.
lebih baik mencoba memahat simpul di setiap paras lebam korban serigala.
dan suatu hari kau pun tersenyum karena kau mengerti.

Sabtu, 09 Agustus 2008

coba kita renungkan

jangan salahkan para bapak, dosanya di masa lalu harus kita tebus!
memang jejak ini takkan nyata,
namun pasti ada sebabnya.

skenario ini begitu sempurna,
dan kita hanya tokoh-tokoh bodoh yang harus berpura-pura cerdas,
melintasi ribuan iklim yang tah kapan akan berganiti.
yang pasti perubahannya tak berpengaruh pada waktu lalu, semua sudah terlewati.

kini kita hanya bicara akan pakem atau norma yang ditulis di atas kulit lembu betina.
berharaplah lembar suci itu tak terkoyak ego naif kaum-kaum bertanduk,
dan semua akan baik-baik saja...

Perjalanan Kita Tak Pernah Sama

perjalanan kita tak pernah sama,
tujuanmu jelas utara,
sadang aku menanti angin merayu langkah
menggodaku mengukir jejak di pasir baru

terkadang gemintang berikan pijar
agar aku tak perlu meraba kelam mimpiku,
namun kau tak akan bisa mengerti.

mungkin aku terlihat keras, kokoh laksana
tebing sisi jurang,
mungkin aku negitu beku, menusuk jantung malam
hingga rembulan runtuh menghujaniku.

semua mata menatapku angkuh,
lidah berkelit ciptakan sosok baru
tanpa disadari

aku rapuh,
aku rapuh,
bila kau tetap di situ,,,,
berhentilah berjalan,
temani jasad ini
berhentilah menduga,
hilangkan dogma

perjalanan kita tak pernah sama,
jalanmu bukan jalanku,
aku berhenti d sini,
menanti sia-sia,,

Apa Artinya?

hidup hanya kamuflase semu yang tampak nyata,
sedang kematian hanya jalan lain menuju persimpangan baru,,
namun tah mengapa semua tak berdaya
ketika cahaya dunia mulai membelai jiwa?
bukan,
bukan jiwa tepatnya hasrat?!

terkadang aku merenung sendiri,
ratapi jejak-jejak biru yang selalu terlihat abu-abu,

hingga kala ini menjelang aku terbenam di sini,
di sisi tak terkenali...
mungkin putih, hitam yang pasti tak transparan

"Antara Prahara dan Dahaga"

aku tercipta di antara dua musim yang tak mau berganti.
menapaki sisi-sisi yang selalu sunyi.

perlahan menikmati tiap titik, detik, dan terkadang membuat semua mendelik.
menikmati titik-titik air yang berkejaran selimuti permukaan yang tak pernah basah.
saat cakrawala senja menebar kelambu kelam seketika semua berubah. kebencianku akan dusta semakin menggila hingga menelan semua yang ada, buta. aku kering, bahkan terlalu gersang untuk bisa menhidupi jiwa dalam raga. logika nyaris tak bernyawa karena cinta terlambang titisan bimbang. aku adalah proletar di hadapan mataku, lebih kecil dari kerdil. akankah penguasa langit akan curahkan setetes air? atau penjaga sungai mengundangku menceburkan diri dan biarkanku kembali? maka langkahku semakin jelas karena hati dapat memilih arti.

6/5/2008

hei,
terlalu hinakah aku di hadapanmu?
hingga semua martabatku tak lagi berarti bagimu,
apalagi yang harus aku serahkan?
seujung jiwa terendam pasrah;
berharap bibir kuasa cuap-cuap meski mungkin hanya satu kata yang akan terucap.
MAAF,,
kusesalkan pengembaraan waktu.
hei, langit mengapa engkau begitu tega;
mencuri satu-satunya kebahagiaan yang nyaris tercipta untukku.
tertawalah!
memang aku terlalu naif.
atau bahkan munafik, menapik cahaya akhir pencarianku.
bukankah itu wajar.
bila kita terlena dan mencoba merangkainya, walau tak seutuh awal kejadian.
dan bila akhirnya fajar menyapa aku hanya ingin menitipkan pesan padanya "sampaikan pada petang tolong sampaikan maafku tuk dia"

Waktu yg Mendoakan Aku.

ah,,,
akhirnya aku terbangun dipagi yang indah.
tak ada lagi kabut di telaga tanpa warna.

ah,,,
akhirnya malam menyapaku.
tak ada lagi besit tentang bayang yang memudar.

dan senja tetap setia berikan aku sketsa akan mimpi,
mungkin sedikit semu namun perlahan kurasa tersentuh.

terima kasih gerimis.
bulir-bulir itu bangkitkan gairahku.
kini aku lebih bernyawa,
dan siap membalik telapak tangan.