Kamis, 25 September 2008

Gemintang Lusuh di Langit Biru

Kemana warnamu,

Warna yang biasanya mengawali senyum.

Lelahkah kau dengarkan kisah semu,

Cerita tentang malu.

Kemana warnamu,

Warna sandaran wajah muram.

Bosankah kau melihat wajah palsu,

Wajah bunga-bunga layu.

Bicaralah!Bila bosan,

Bicaralah! Bila jemu.

Agar semua mengerti,

Dan bergegas pergi.

Tak akan ada lagi kisah untukmu,

Hanya wajah syahdu tertuju padamu.

Aku Boneka Kecilmu

Terus,

Lucuti saja terus!

Paksa aku berjalan telanjang dan semua mata menatapku miris,

Tak ada lagi tawa mengusikku, aku sudah terbiasa.

Aku sudah terbiasa lewati jalan ini tanpa alas kaki,

Tapi tidak seperti ini,

Mungkin kau senang melihat mereka tertawai aku,

Aku hanya hiburan bagimu,

Boneka atau secarik karikatur.

Tak apa jika itu bisa sandingkanku denganmu.

Aku akan terbiasa.

Kau tertawa,

Melihat mereka tertawa.

Kau tertawa,

Melihat mereka menatap sinis, iba.

Aku serahkan setangkup cinta,

Kau tertawa,

Bahkan lebih keras.

Terbahak-bahak.

Lebih Indah Sunyi.

Lebih baik kau pasung ragaku!

Dan pikiranku masih bisa mengembara,

mencari kebebasan yang lebih nyata.

Mengapa harus ini yang terjadi?

Jiwaku terpenjara entah di mana.

Terkunci dinding tebal yang tak bisa aku runtuhkan.

Aku tak lebih dari seekor kerbau namun lebih dungu lagi.

Yang aku tahu hanya rentetan waktu menghakimiku,

Paparkan segudang gundah, biasan laku laknat; protesku pada

Keadaan,.

Bisu!

Dan akhirnya angan hanya tertuju pada kalimat yang tercetak pada

Kitab-kitab suci para nabi yang tetap ku pungkiri.

Jumat, 19 September 2008

Kisah Hitam-putih

berjalan tanpa alas kaki
keluar dinihari dan kembali hampir pagi
menghitung jejak yang ditinggalkan gerimis senja tadi.

domba-domba tertawa,
seperti melihat badut yang sedang dilecehkan.
menghibur dengan ironi yang nyaris nyata.

semua tersenyum,
menangis atau meringis tak pernah tersadari.
semua tetap tersenyum.
terbahak-bahak.
dia tertawa lepas,
menangis,
meringis.
tanpa air mata hanya sedikit lesung di pipi.

Tak Lelahkah

bulan masih bertengger
hari sudah terang,
matahari sudah beranjak dari ranjang.
aku suguhkan segelas embun yang mungkin bangunkanmu.

kau masih terbaring lusuh,
jasadmu enggan kau basuh.
sama sekali tak terlihat tangguh.

sampan itu sudah nyaris karam,
mungkin sudah lama tak di gunakan,
kayunya sudah berlapis garam.
da itu tak buatmu geram.

bulan masih bertengger
hari sudah terang,
matahari beranjak dari bilik.
aku tampar kau hingga mendelik.
namun kau tertidur lagi.

Kamis, 18 September 2008

Mau apa lagi sekarang?!

terengah-engah aku dalam pelarian,

tak ada rimba mau sembunyikanku,

aku tak ingin lenyap hanya beristirahat,

semua memaksaku bejat.


lenyapkan!

lenyapkan semua,

hingga tak ada lagi prahara

dan semua tetap baik-baik saja.


tetap berjalan walau hanya dengan satu kaki,

semoga jejak ini nyata,

tak seperti cetak biru yang tergores abu-abu

Jumat, 05 September 2008

IKSI**

munafikkah aku,
atau mereka tak punya mata.
bersandar pada dahan yang nyaris mati.
bukan aku ingin melukis mimpiku seniri,
bukan pula aku ingin merendam mereka di telaga beku,
walau mereka sudah terlalu membatu,
aku ingin semua terbingkis indah.

adakah yang harus aku lakukan?
adakah?
bila mereka hanya bisa tertawa dan mencibir.

ingin kusodorkan sebongkah kepalan pada mereka.
agar mereka tersadar, ini bukan panggung parodi ironi.
sedih ini sangat nyata.
keparat!!!
Ini Keluarga Setan dan Iblis.

Minggu, 10 Agustus 2008

Memo Tuk Sahabat Ku

sahabat,
terlalu jauh khayalmu mengembara.
pencarianmu takkan usai,,
percuma kau teriak, percuma kau maki langit.
suaramu takkan memecah selaput ari,
apalagi kumpulan semen..
lebih baik kau ratapi waktu yang telah gerogoti langkahmu,
bicaralah dengan rasa dan rasalah apa yang terpendam dalam setumpuk ego yang mungkin sengaja kau tampik.
benar malam semakin lapar dan serigala tak lagi berikan kita ketenangan dalam mimpi! percayalah kakimu perkasa, mampu berikan cetak biru di semua lembar hitam itu.
sahabat berhentilah mencari domba.
lebih baik mencoba memahat simpul di setiap paras lebam korban serigala.
dan suatu hari kau pun tersenyum karena kau mengerti.

Sabtu, 09 Agustus 2008

coba kita renungkan

jangan salahkan para bapak, dosanya di masa lalu harus kita tebus!
memang jejak ini takkan nyata,
namun pasti ada sebabnya.

skenario ini begitu sempurna,
dan kita hanya tokoh-tokoh bodoh yang harus berpura-pura cerdas,
melintasi ribuan iklim yang tah kapan akan berganiti.
yang pasti perubahannya tak berpengaruh pada waktu lalu, semua sudah terlewati.

kini kita hanya bicara akan pakem atau norma yang ditulis di atas kulit lembu betina.
berharaplah lembar suci itu tak terkoyak ego naif kaum-kaum bertanduk,
dan semua akan baik-baik saja...

Perjalanan Kita Tak Pernah Sama

perjalanan kita tak pernah sama,
tujuanmu jelas utara,
sadang aku menanti angin merayu langkah
menggodaku mengukir jejak di pasir baru

terkadang gemintang berikan pijar
agar aku tak perlu meraba kelam mimpiku,
namun kau tak akan bisa mengerti.

mungkin aku terlihat keras, kokoh laksana
tebing sisi jurang,
mungkin aku negitu beku, menusuk jantung malam
hingga rembulan runtuh menghujaniku.

semua mata menatapku angkuh,
lidah berkelit ciptakan sosok baru
tanpa disadari

aku rapuh,
aku rapuh,
bila kau tetap di situ,,,,
berhentilah berjalan,
temani jasad ini
berhentilah menduga,
hilangkan dogma

perjalanan kita tak pernah sama,
jalanmu bukan jalanku,
aku berhenti d sini,
menanti sia-sia,,

Apa Artinya?

hidup hanya kamuflase semu yang tampak nyata,
sedang kematian hanya jalan lain menuju persimpangan baru,,
namun tah mengapa semua tak berdaya
ketika cahaya dunia mulai membelai jiwa?
bukan,
bukan jiwa tepatnya hasrat?!

terkadang aku merenung sendiri,
ratapi jejak-jejak biru yang selalu terlihat abu-abu,

hingga kala ini menjelang aku terbenam di sini,
di sisi tak terkenali...
mungkin putih, hitam yang pasti tak transparan

"Antara Prahara dan Dahaga"

aku tercipta di antara dua musim yang tak mau berganti.
menapaki sisi-sisi yang selalu sunyi.

perlahan menikmati tiap titik, detik, dan terkadang membuat semua mendelik.
menikmati titik-titik air yang berkejaran selimuti permukaan yang tak pernah basah.
saat cakrawala senja menebar kelambu kelam seketika semua berubah. kebencianku akan dusta semakin menggila hingga menelan semua yang ada, buta. aku kering, bahkan terlalu gersang untuk bisa menhidupi jiwa dalam raga. logika nyaris tak bernyawa karena cinta terlambang titisan bimbang. aku adalah proletar di hadapan mataku, lebih kecil dari kerdil. akankah penguasa langit akan curahkan setetes air? atau penjaga sungai mengundangku menceburkan diri dan biarkanku kembali? maka langkahku semakin jelas karena hati dapat memilih arti.

6/5/2008

hei,
terlalu hinakah aku di hadapanmu?
hingga semua martabatku tak lagi berarti bagimu,
apalagi yang harus aku serahkan?
seujung jiwa terendam pasrah;
berharap bibir kuasa cuap-cuap meski mungkin hanya satu kata yang akan terucap.
MAAF,,
kusesalkan pengembaraan waktu.
hei, langit mengapa engkau begitu tega;
mencuri satu-satunya kebahagiaan yang nyaris tercipta untukku.
tertawalah!
memang aku terlalu naif.
atau bahkan munafik, menapik cahaya akhir pencarianku.
bukankah itu wajar.
bila kita terlena dan mencoba merangkainya, walau tak seutuh awal kejadian.
dan bila akhirnya fajar menyapa aku hanya ingin menitipkan pesan padanya "sampaikan pada petang tolong sampaikan maafku tuk dia"

Waktu yg Mendoakan Aku.

ah,,,
akhirnya aku terbangun dipagi yang indah.
tak ada lagi kabut di telaga tanpa warna.

ah,,,
akhirnya malam menyapaku.
tak ada lagi besit tentang bayang yang memudar.

dan senja tetap setia berikan aku sketsa akan mimpi,
mungkin sedikit semu namun perlahan kurasa tersentuh.

terima kasih gerimis.
bulir-bulir itu bangkitkan gairahku.
kini aku lebih bernyawa,
dan siap membalik telapak tangan.

Jumat, 25 Juli 2008

"Dia Membuatku Slalu Terjaga"

aku yang hina mengais-ngais hari tuk lontarkan maaf.
melukis malam dalam kertas buram,
membodohi diri dengan segumpal rasa dalam kata
dan mengapa ia tak juga mengerti.
perjalanan ini harus segera diakhiri,
atau semakin hari semakin tebal balutan sesal.
dan mengapa ia tak juga mengerti.
semua sudah ku sodorkan untuknya,
seperti proposal tuk sidang dewan guru.
dan mengapa ia tak juga mau mengerti.
ini tak baik!
untukmu,
untukku.
lalu mengapa tak kau padamkan lilin agar lelap bisa menjemputmu.
aku tak mau membuatmu terbakar.
janganlah membuat ini semakin sukar.
aku mudah sekali gusar.
argh..,,
mungkin tak akan cukup waktu,
tak akan ada lagi kata.
aku menyesal..

Mang Diman Temanku

begitu panjang hari karena kita terus berlari,
mencari tempat melepas letih,
aku tahu semua terlihat begitu sederhana,
hanya saja kita merasanya lebih.

bedeng-bedeng itu kosong,
karena bukan untukmu,
dan tidak pula untuk ku singgahi malam ini.
aku tak mau bila akhirnya tak bisa terjelaskan.
aku tak mau berani bukan karena aku takut.,
aku hanya menjaga.

dan kuharap semua akan baik-baik saja.
semoga akan baik-baik saja.

Selasa, 15 Juli 2008

Lembah Itu

aku muak dengan neraca-neraca ini.
mengapa semua harus diukur, dinilai, dan penghargaa.
dan semua menganggapku sia-sia,
karena jalan ini terlalu curam tuk ku daki,

bukan berarti ini tak mungkin selesai.
pencapain itu memiliki arti tersendiri untkku.
mereka yang menilai ini semua cukup tak juga mengerti;
meski busa di mulutku belum mengering.

aku tahu,
terlalu banyak mata miris terhadapku.
aku tahu,
hampir semua jemu.
yang ku harap satu hati kan mengerti dan dampingi semua ini.

Jumat, 27 Juni 2008

Resah Malam!

sunyi,,
mencekam,
hanya gemuruh angin mengusik daun dan ranting-tanting rapuh.

derap-derap samar menguncang lonceng dada,
tah dia atau dia yang tak ditunggu mengusik bisik,
mantra-mantra terbesit halus, bukan merdu, cenderung penuh getar.
adakah malaikat di sekumpulan setan.

dan sekalilagi deburan darah dalam dada meracau batin..
cahaya padam,
gelap,
gelap,
gagap.
tak ada lagi yang bisa tegap.
semua membujur dengan sekujur jasad berbalut sebaris kata,
"darah kita tampar mereka, jiwa kita mimpi mereka"

Senin, 23 Juni 2008

Tentang Seseorang (terima kasih)

Afasiaku karena kamu
Raut itu sejenak samar
Ikat rasa tanpa rasa
Nisab ku di hari itu
Ya, walau hanya sekejap

Dan Bila Senja Bergulir

secarik jingga di pematang cakrawala meredam resah dalam rasa,
melukis aurora dengan tinta emasnya dan semua terpampang tanpa batas.
sekawanan camar menari, ikuti alunan debur yang meracau kelembutan desir angin silih berganti.
lembut angin perlahan menusuk, para camar telah bersembunyi tah di mana.
auman ombak mengusik sunyi, ketakutanku semakin memburu.
bayang itu sirna...
bentangan jaring hitam tutupi lembut cahaya hati.
tak ada lagi puzzle tentang esok yang harus kurangkai,
aku hanya ingin mengulangi; mengahiri senja di ufuk tak terjamah.

Sahabat Keledai-~

aku bawa kalian ke ladang gersang,
bantu aku bersihkan sisa kemarau,
dan petani memberikan semangkuk gandum untukku sedang kalian tak pernah tahu

Pagi Dunia !

ah, secercah sinar perlahan buyarkan mimpi. seponggol badan perlahan beranjak tinggalkan pembaringan yang hanya dua helai kain tipis pembatas kulit dengan lantai,

ah, langkah gontai menggiring jasad menuju pancur, ritual menyambut hari
seteguk air cukup tuk mengaliri kerongkongan dan bermuara tah di mana.

ah, setelah semua rutinitas terpenuhi,
kembali harus ada dunia nyata; melanjutkan hidup yang telah separuh tersulam,
meski terkadang anyaman tak seperti pola dasarnya.

ah, semua harus terlewati hari ini
dan esok kan kembali bermula.

Sabtu, 21 Juni 2008

Neraca Hitam-putih

tak ada kejujuran saat aku goreskan pena di lembar itu
warna fajar yang ku tuangkan di sana semu, bahkan nyaris absurd adanya
tarian jiwa tak lagi memberi nyawa carikan kertas buram sketsa rasa

baleh jadi semua tak dinamis
tak ada sistematis untuk semua yang dramatis
hingga semua habis terkikis

dan fajar itu tetap saja membisu
tak ingin membagi canda padaku
dan segumpal hasrat membeku

mungkin akan ada fajar lain yang akan terbit di langit tenggara
dan camar kembali denagn ritual penyambutannya.

Selasa, 17 Juni 2008

Berharap Tuk Bersanding

aku sayang kamu,
aku butuh kamu,
aku ingin kau mati..

kau racuni aku dengan sesak tak beralasan,,
kau manjakan aku dengan resah tanpa sebab,,
kau rasuki setiap sisi seluruh darah,,
meredam rasa tanpa kuasa,,

oh, Tuhan...
beribu tangkai mawar telah layu di genggamku,
bahkan dasar samudera nyaris terkuak oleh fantasiku,
mengapa semua tetap saja kaku,,
terbergeming sekokoh tebing,,

melatiku,,
membunuhku...

Peduli Setan

kata orang api itu panas
kata orang air itu menghanyutkan
kata orang jatuh itu sakit
kata orang gembel itu hina
kata orang cinta itu buta
kata orang berlian itu indah

semua hanya kata orang
dan aku tak pernah menghiraukannya

Minggu, 15 Juni 2008

kisah nenek moyang

sejuta indah di bentangan biru,
membuat takjub semua mata,,
lembut ramah-tamah di selenting nafas,
manjakan setiap lembar telinga yang terpajang di sana,,

sempalan surga bersarang di sini,
tandon-tandon buah berserakan di lantai tak beralas,,
permata segala mata tergerai indah pada etalase nusantara,,

sayang, tangan-tangan kasar berkreasi liar,
menguak semua hingga rusak,,
dan dongeng nenekku kini menjadi cerita fiktif yang adiktif.

kram otak

terapi,
terapi,
terapi,
terapi,
terapi,
terapi,

mengapa tak ada perubahan?

Kamis, 12 Juni 2008

Sebuah potret gagal cetak

Bangsat,

Muak aku mendengar mereka yang pura-pura miris mendengar mereka meringis,

Ketika hidup menjadi sedemikian mahal,

Hingga harga diri tak lagi berarti, bahkan harga diri yang telah tergadaikan pun tak cukup tuk penuhi bekal hari ini.

Mereka mengutuk kami yang selama ini menjadi alas kaki lebih baik mati!

Mereka menganggap sampah lebih berharga dari nyawa kami, apalagi permata di negeri ini.

Hewan-hewan buas kini bisa melintasi rimba, bahkan kini mereka bersayap-berenang.

Siap menyantap daging-daging kami yang nyaris membusuk di sini, di tengah kebun buah, yang tak bisa mengisi perut ketika panen tiba.

Dan mereka tetap pura-pura bicara simpati-empati,

Sedang mereka tersenyum lebar dalam batin, mereka mendapat sekeranjang buah jatah dari serigala-serigala buncit, Anak mereka tidak akan mati kelaparan tahun ini,. biar saja fakir mati, agar tak adalagi beban akan moral yang tertindas.

Kapankah datang khalifah arif ramalan para nabi?

Tanah ini menjadi neraka kaumku,

Sedang vampir mempercepat regenerasi.

Kami tak mau sembunyi,

Kami harus sembunyi,

Atau mati…

Aku malu menatap hari

Tak adalagi harga diri,

semua telah aku letakkan di telapak kaki mu,

Tak ada lagi malu,

Aku tersenyum, kau injak kepalaku yang mencumbu punggung kaki.

Mengapa malam begitu tega merengut satu-satunya kebahagiaanku.

Menggantikannya dengan kelambu kelam.

Senyum itu hampir sempurna di secarik mimpi.

Salahkah bila aku yang hina ini ingin bersanding dengan mimpi?

Mengapa tak pernah ada jawab,

Tak ada bunyi,

Aku hanya ingin kalian tahu, dengan tulus ku berujar, maaf yang ku cari.

Khilafku harus ku tebus,

Berapapun harga yang harus ku bayar,

Meski harus menyelupkan kepala ke dalam jamban.

Mengapa ia tak mau peduli?

tamasya hitam-putih

sebotol anggur digenggaman gembalakan khayal tiada ujung,
seakan firdaus terlukis begitu nyatanya.
sketsa buram tercetak di diary malaikat,
hina!
mungkin menurut sebagian orang bersorban putih tak lebih sampah.
ahh.
persetan dengan semua dogma,
bahkan mereka para pencetus tak bisa sejalan dengan semilir kata dalam batin.
permata membuat semua buta,
hingga semua tampak kasat mata.pengembaraanku tak berwarna.
meski ribuan bunga tertabur di sana.
teratai tumbuh hiasi rawa,
gerimis runtuh hancurkan cerah.
pemandangan tak seindah semestinya.