Rabu, 11 November 2009

Jalang!!

seperti bunga kau biarkan semuakumbang hinggap.
kau biarkan mereka menghisap madumu, meski kau tahu setelah itu mereka pergi.
kau tak pernah menghiraukan jika mereka memang ingin pergi.

ketika datang angin, kau menari. seakan merayu tuk dicumbu.
jalang!
mereka bilang kau jalang.
kau diam saja.
dan tak berbuat apa-apa, kau tahu semua akan sia-sia.
tak ada tempat untukmu membela.
salah!
mereka bilang kau salah.
seakan merekalah hakim yang nyata.

lalu air mata tertiti di batinmu, tak ada yang tahu.
kau proyeksikan senyum, palsu, tuk membuali nurani.
tertawa,dan tertawa lagi.
bahkan sesekali membalas ironi.
kalian belum pernah merasakan indahnya ini.
atau seakan menghardik dalam hati "munafik! kalian iri melihat kami. kami bahagia
dan kalian tak dapat merasakannya. seandainya kalian dapat melakukannya, seandainya tak ada
koridor dogma yang membuat semua terkesan tabu kalian pasti akan seperti kami. kamilah sesungguhnya kamilah eradaban tertingidengan toleransi yang kami miliki"

atau bahkan kalian mencoba membuat belati tuk menyayat hati yang lain.
hanya karena kalian tak terima di sebut jalang. kalian rengkuh sang kekasih, dan tersenyum miris pada yang tertinggal.

HAHAHAHA...
aku hanya bisa "tertawa"
atau sesekali menggelengkan kepala.

tak ada yang salah pada mulanya.
itu pendapatku.
hanya karena sebongkah perhatian yang hilang, lalu semua menyebut kalian jalang, karena kalian ingin mendapatkannya; lagi, lebih.
lalu sakit hati. kalian lakukan lagi, ingin lebih lagi...

Rabu, 29 April 2009

aku pergi mengikuti bayangmu,
dan meracau mendengar hatimu,
aku resah berselimut pasrah.

aku hanya anai-anai
di hamburkan angin di atas pesisir
hempas,
aku tak beralas.

aku pernah berbicara tentang dosa
dosaku yang tak ingin melepasmu bahkan dalam mimpiku.
aku sangat pragmatis,
dan itu terlalu miris.

aku pencemburu,
dan aku penakut.
aku takut buta,
jalanmu masih membentang.
aku buta sayang.
hanya saja aku malu ungkap itu.

dan kau tak akan pernah tau itu.
bibirku terkunci,
dan yang pasti aku sayang kamu.
sekarang dan entah sampai kapan.
dan kau tahu itu.

*****

*aku telah selesai menulis kisah di lembar terakhir buku itu. dan kini aku menyimpannya rapih dalam lemari buku-ku. aku mencoba menggurat pena di lembar baru, dengan kisah yang lebih syahdu;tanpa gemuruh.
namun sayang aku kehabisan tinta merah.

aku bingung, kehabisan kata untuk memulai lembar baru. semoga ia bantu aku hadirkan cerita; tentang gemintang yang tak pernah merungut pasrah. tentang regenasi dedaunan. hingga tak akan ada kata "aku kehabisan rangkaian kata di lembar terakhir jilid ini".

Jumat, 23 Januari 2009

+ +

sudah,
sekarang sudah bukan saatnya meratap!
jalan itu buakn jalanku,
itu jalannya.
pilihannya,
bukan pilihanmu.
tak ada guna keterpurukkanmu..
semua akan semakin berlalu,
dan seiring berjalannya waktu.
kisah sendu akan berlalu.
percayalah!
percayalah!

Jumat, 16 Januari 2009

"Blue Aurora"


Ia datang bukan pada waktunya.
ketika aku menyimpan segudang gundah,
setumpuk kayu penyulut dendam.

Ia datang bukan pada waktunya,
ketika aku menggenggam sumpah,
serapah yang membuatku resah.

aku biarkan dia lintasi belukar yang aku arahkan,
hingga telapaknya tercabik-cabik,
aku biarkan dia taburkan garam pada luka,
hingga aku tak berdaya.

maaf,
aku terlalu naif,
semua tampak terang ketika Auroraku padam.
dan aku ingin menghilang,
berlari mencarinya.

maaf,
aku terlalu egois,
tak ada yang lebih nyata.
takada guna jiwa jika Ia telah binasa.

percayakah enggkau air mataku tertiti melepas kepergiannya?!

pagi~


Aku jatuh pagi itu,
seluruh igaku lepas.
gemuruh air tak mengusik pedihku.

aku coba melangkah siang itu,
namun sendi-sendiku terlalu rapuh menopang jasadku.
aku gontai, aku limbung.
namun tetap mencoba tegar.

dan ketika purnama berhasil mengusir senja,
aku berharap air jatuh dari langit.
membasuh pedas mataku,
membuang luka pagi ini bersamanya.

Selasa, 13 Januari 2009

nggak tau harus gimana.

aku sayang kamu,
aku butuh kamu.
tapi aku ingin menjauh.

aku tak ingin melihat senja gugur di mimpimu,
malam begitu mencekam sayang!
begitu banyak binatang jalang.

aku sayang kamu,
aku butuh kamu,
aku ingin mati.

menggugurkan bulan bersama nisanku,
dan menghalangi terik mentari dengan kambojaku.
dan aku akan terenyum.
membawamu berlari menyusuri kandang bunga.
tidak dalam mimpimu,
ini semua akan nyata.

aku sayang kamu,
aku butuh kamu,
menarilah bersamaku.
kita lintasi belukar ini bersama.

Senin, 12 Januari 2009

Cerita tentang rasa

malam ini purnama,
dan aku bersanding gundah.

malam ini tak cerah,
beriring mendung dalam palung.

lihat!
di sana bunga bermekaran
sayang tak satu pun dapat aku petik
meski aku berniat miliki salah satunya.

Aku takut!
tanganku kasar,
tak bisa menggenggam bunga,
bisa-bisa kelopaknya gugur di jemariku

Aku bingung!
bukan linglung,
bukan pula canggung.

Maju!
aku satukan rasa dalam jiwa,
selaraskan dengan langkah.
aku masih tertatih.

Atau lebih baik pergi!
biarkan semua alami,
biarkan alam menjaganya denga kasih nyata!

Dan Semua Bahagia!
Bagaimana dengan Aku?!

hanya kamu!

Yang aku mau hanya kamu!
aku tak ingin memadu kasih dengan bintang jalang;
aku harus berjalan bersanding sunyi dan sepi,
beradu badan dengan debur angin yang mencekam.

Yang aku mau hanya kamu!
aku tak ingin bercumbu dengan mawar merah;
indah merekah.
siap menerkamku dengan duka,
atau layu ketika cintaku mulai merambah sayap cakrawala.

Yang aku mau hanya kamu!
teduhku,
rebahku,
walau dalam khayalku.
aku tersenyum.

Sabtu, 10 Januari 2009

sebuah janji di lembar putih


pagi dunia,,
aku terbangun dengan mata terpejam,
dan mencoba tidur dengan mata terbuka.
berharap tak ku lihat lagi benderang halilintar.

kombinasi warna yang indah di langit tenggara
binasakan ribuan raga beserta mimpinya.
mimpi akan ibu menyusui anaknya,
mimpi akan ayah bekerja mencari nafkah.
kini semua sirnah bersama kilauan kembang api.
aku tertawa,
terbahak,
tak berbuat apa-apa.
gerutuku tak ada guna.
semua sia-sia.
inikah janji di lembar putih itu.
aku tak mengerti.
sungguh aku tak mengerti.

Rabu, 07 Januari 2009

senyum berselubung duka

huh,
tiba-tiba langit mendung
senja sembunyikan lembayungnya
rintik hujan tertabuh di langit utara

tak ada mata tak terpejam
ketika kusam rona terpancar di sana
di gurat-gurat air muka sang raja
raja malapetaka

hening,
senyap seketika selimuti jiwa
jiwa rapuh yang kering kerontang,
jiwa mereka yang terbuang.

Selasa, 06 Januari 2009

cinta

"cinta datang karena terbiasa", kata-kata ini dah sering banget kita dengar.
kata-kata yang sangat klasik tapi nggak usang dimakan zaman. bahkan salah satu group band raksasa di negeri ini memakai kata-kata ini sebagai lirik di salah satu hitsnya.
yup, ternyata kata-kata ini nggak bisa di bantah. dah banyak korban cinta karena kedekatan atau dengan kata lain keterbiasaan.
mungkin karena kita sudah terbiasa jadi nggak ada lagi rasa canggung, kita jadi saling terbuka, saling menghargai, dan saling melengkapi (karena kalo dah terbiasa bareng trus tiba-tiba si dia nggak ada pasti berasa nggak lengkap deh yang kita jalanin), maka dari itu kita jadi saling mengerti satu sama lain karena kita dah nggak nutup-nutupin kekurangan kita dan si dia dah terbiasa dengan kekurangan kita. dah cukupkan alasan untuk yang namanya cinta dateng. ada nggak sich alasan untuk yang namanya cinta nggak dateng kalo udah ada yang namanya keterbukaan, penghargaan, dan pengertian. kalo yang namanya materi mah nggak perlu diungkit, emang sich zaman sekarang bohong kalo kita bicara tentang cinta tanpa materi, kan ada yang bilang cinta itu butuh pengorbanan dan sekarang itu materi jadi salah satu bentuk pengorbanan. tapi yang namanya cinta bukan ujug-ujug urusan materi.
cinta, suatu bentuk abstrak dari apa dirasakan oleh hati. nggak bisa dipaksa, nggak bisa diatur atau diarahkan. kalo ada seseorang yang bilang dia bisa ngatur perasaannya itu omong-kosong.
gue punya cerita, ada seorang kenalan gue bilang hidup itu nggak butuh yang namanya cinta menurut dia cinta itu nggak lebih dari sekedar segudang gombal, omong-kosong yang diperdagangkan. tapi pada suatu ketika dia ngerasain juga tuk yang namanya virus cinta, dia diserang ama yang namanya sindrom melankolis. temen gue itu emang orangnya keliatan cuek banget ama yang namanya cwe (kebetulan temen gue cwo), selama ini tuh dia pikir yang namanya cwe tuh mahluk paling egois yang pernah tuhan ciptain di alam semesta. dia selalu bilang sama gue kalo yang namanya cwe maunya dimengerti, dimanja, diperhatiin, diduluin. tapi yang namanya cwe nggak pernah mau tau yang namanya cwo, bisanya ngekang, ngelarang inilah, ngelarang itulah. yang ini salahlah, yang itu saahlah, nggak pernah ada yang bener dimata cwe tentang apa yang cwo lakuin. tapi kali ini gue malah ngeliat temen gue koq kaya orang yang nggak pernah gue kenal sebelumnya, dia koq jadi aneh aja. pas gue tanya taunya dia bilang ada satu cwe yang menurut dia biasa aja tapi koq bisa bikin perubahan di hidupnya dia ya?!. dia bilang sebelum dia kenal tuh cwe yang dia tau cuma item sama putih, tapi semenjak dia kenal tuh cwe dia jadi kenal yang namanya jingga sama marun. eh, dia malah bilang sama gue kalo yang namanya cwe itu bisa bawain kita biru, kuning, sama merah. setelah gue telusurin ternyata temen gue ini juga salah satu korban cinta karena terbiasa. tapi sayangnya temen gue nggak bisa ngeyakinin lawan mainnya seberapa besar sayang yang dia punya. padahal gue yakin banget tuh kalo cwe-nya mau sama dia temen gue pasti rela disuruh nguras danau (jangankan danau laut aja dia mau kali kalo disuruh sama tuh cwe mah).
jadi yang namanya cinta karena keterbiasaan itu nggak bisa dianggap sepele, virus cinta bisa lebih berbahaya dari yang namanya tbc atau sars. gimana nggak virus cinta jenis ini udah banyak juga merengut korban lho, yang paling banyak adalah korban perasaan, bahkan terdapat beberapa korban jiwa (yang pada bunuh diri gara-gara pupus, alias nggak kesampean cintanya) makanya hati-hati sama virus ini ya! virus ini nggak bisa dihindari.
kalo terjangkit cari tukang bunga terdekat, kalo nggak ampuh cari dukun pelet terdekat. hehehe....

Senin, 05 Januari 2009

Aku Tinggal Kasihku,


Aku berdiri di snini,
di bawah kenanga yang hampir mati.
satu-dua daun gugurnya membelai ku.
bergantian dengan semilir angin di sela rambutku.

aku ukir empat garis menurun dalam selembar daun,
di dinding kenanga,
berharap kenanganku abadi bersamanya.
dan kemudian aku bersandar,
terpejam.
Selamat Tinggal Kasih.
esok kita tak akan bertemu lagi.

Selamat Tinggal Sayang


aku sayang kamu,
sungguh, aku sungguh-sungguh.
hanya saja aku dungu.
mungkin kau tak sadari itu,
aku tak mau membuatmu termangu lesu. aku tak punya apa-apa untuk aku janjikan.
yang aku punya hanya segudang gombal di mulutku, dan kau tahu itu.
namun sungguh aku sayang kamu,
kau yang membuat kaki lumpuhku berjalan lagi, begitu banyak jejak aku tinggalkan.

aku sayang kamu,
aku takut bersamamu, lebih baik aku menjauh, tidak...
lebih baik kau yang menjauh.
pergilah!!
tinggalkan aku di sini sendiri,
tinggalkan aku dan egoku. aku tak ingin jadi benalu, meski aku ingin bersandar di dadamu. mendengar degupmu. namun aku yang berdebar khayalkan itu.

kini kau tahu,

kini aku tak mau tahu...

yang aku tahu kita menjauh..
kenangan mu tumbuh bersama kenanga di hatiku.

Jumat, 02 Januari 2009

Aku Alazon

gambar dari Satu Bumi "Mahasiswa Penggiat Alam Bebas"



Semua berlalu.
kini hanya tinggal aku dan egoku,
sebongkah keangkuhan yang aku bangun sendiri,
begitu kokoh dengan fondasi iri dengki.

tak ada lagi yang bisa aku andalkan.
semua menjauh,
aku menjauh,
aku berlalu.
yang tersisa hanya kisah semu.
tentangku,
tentangku.

aku lelah seperti ini;
yang aku coba hanya mengukir senyum tuk semua,
tapi tidak senyumku.

hingga akhirnya aku iri,
aku dengki,
ketika senyuman itu mengembang di sana
di wajah-wajah mesra yang aku damba.