Jumat, 27 Juni 2008

Resah Malam!

sunyi,,
mencekam,
hanya gemuruh angin mengusik daun dan ranting-tanting rapuh.

derap-derap samar menguncang lonceng dada,
tah dia atau dia yang tak ditunggu mengusik bisik,
mantra-mantra terbesit halus, bukan merdu, cenderung penuh getar.
adakah malaikat di sekumpulan setan.

dan sekalilagi deburan darah dalam dada meracau batin..
cahaya padam,
gelap,
gelap,
gagap.
tak ada lagi yang bisa tegap.
semua membujur dengan sekujur jasad berbalut sebaris kata,
"darah kita tampar mereka, jiwa kita mimpi mereka"

Senin, 23 Juni 2008

Tentang Seseorang (terima kasih)

Afasiaku karena kamu
Raut itu sejenak samar
Ikat rasa tanpa rasa
Nisab ku di hari itu
Ya, walau hanya sekejap

Dan Bila Senja Bergulir

secarik jingga di pematang cakrawala meredam resah dalam rasa,
melukis aurora dengan tinta emasnya dan semua terpampang tanpa batas.
sekawanan camar menari, ikuti alunan debur yang meracau kelembutan desir angin silih berganti.
lembut angin perlahan menusuk, para camar telah bersembunyi tah di mana.
auman ombak mengusik sunyi, ketakutanku semakin memburu.
bayang itu sirna...
bentangan jaring hitam tutupi lembut cahaya hati.
tak ada lagi puzzle tentang esok yang harus kurangkai,
aku hanya ingin mengulangi; mengahiri senja di ufuk tak terjamah.

Sahabat Keledai-~

aku bawa kalian ke ladang gersang,
bantu aku bersihkan sisa kemarau,
dan petani memberikan semangkuk gandum untukku sedang kalian tak pernah tahu

Pagi Dunia !

ah, secercah sinar perlahan buyarkan mimpi. seponggol badan perlahan beranjak tinggalkan pembaringan yang hanya dua helai kain tipis pembatas kulit dengan lantai,

ah, langkah gontai menggiring jasad menuju pancur, ritual menyambut hari
seteguk air cukup tuk mengaliri kerongkongan dan bermuara tah di mana.

ah, setelah semua rutinitas terpenuhi,
kembali harus ada dunia nyata; melanjutkan hidup yang telah separuh tersulam,
meski terkadang anyaman tak seperti pola dasarnya.

ah, semua harus terlewati hari ini
dan esok kan kembali bermula.

Sabtu, 21 Juni 2008

Neraca Hitam-putih

tak ada kejujuran saat aku goreskan pena di lembar itu
warna fajar yang ku tuangkan di sana semu, bahkan nyaris absurd adanya
tarian jiwa tak lagi memberi nyawa carikan kertas buram sketsa rasa

baleh jadi semua tak dinamis
tak ada sistematis untuk semua yang dramatis
hingga semua habis terkikis

dan fajar itu tetap saja membisu
tak ingin membagi canda padaku
dan segumpal hasrat membeku

mungkin akan ada fajar lain yang akan terbit di langit tenggara
dan camar kembali denagn ritual penyambutannya.

Selasa, 17 Juni 2008

Berharap Tuk Bersanding

aku sayang kamu,
aku butuh kamu,
aku ingin kau mati..

kau racuni aku dengan sesak tak beralasan,,
kau manjakan aku dengan resah tanpa sebab,,
kau rasuki setiap sisi seluruh darah,,
meredam rasa tanpa kuasa,,

oh, Tuhan...
beribu tangkai mawar telah layu di genggamku,
bahkan dasar samudera nyaris terkuak oleh fantasiku,
mengapa semua tetap saja kaku,,
terbergeming sekokoh tebing,,

melatiku,,
membunuhku...

Peduli Setan

kata orang api itu panas
kata orang air itu menghanyutkan
kata orang jatuh itu sakit
kata orang gembel itu hina
kata orang cinta itu buta
kata orang berlian itu indah

semua hanya kata orang
dan aku tak pernah menghiraukannya

Minggu, 15 Juni 2008

kisah nenek moyang

sejuta indah di bentangan biru,
membuat takjub semua mata,,
lembut ramah-tamah di selenting nafas,
manjakan setiap lembar telinga yang terpajang di sana,,

sempalan surga bersarang di sini,
tandon-tandon buah berserakan di lantai tak beralas,,
permata segala mata tergerai indah pada etalase nusantara,,

sayang, tangan-tangan kasar berkreasi liar,
menguak semua hingga rusak,,
dan dongeng nenekku kini menjadi cerita fiktif yang adiktif.

kram otak

terapi,
terapi,
terapi,
terapi,
terapi,
terapi,

mengapa tak ada perubahan?

Kamis, 12 Juni 2008

Sebuah potret gagal cetak

Bangsat,

Muak aku mendengar mereka yang pura-pura miris mendengar mereka meringis,

Ketika hidup menjadi sedemikian mahal,

Hingga harga diri tak lagi berarti, bahkan harga diri yang telah tergadaikan pun tak cukup tuk penuhi bekal hari ini.

Mereka mengutuk kami yang selama ini menjadi alas kaki lebih baik mati!

Mereka menganggap sampah lebih berharga dari nyawa kami, apalagi permata di negeri ini.

Hewan-hewan buas kini bisa melintasi rimba, bahkan kini mereka bersayap-berenang.

Siap menyantap daging-daging kami yang nyaris membusuk di sini, di tengah kebun buah, yang tak bisa mengisi perut ketika panen tiba.

Dan mereka tetap pura-pura bicara simpati-empati,

Sedang mereka tersenyum lebar dalam batin, mereka mendapat sekeranjang buah jatah dari serigala-serigala buncit, Anak mereka tidak akan mati kelaparan tahun ini,. biar saja fakir mati, agar tak adalagi beban akan moral yang tertindas.

Kapankah datang khalifah arif ramalan para nabi?

Tanah ini menjadi neraka kaumku,

Sedang vampir mempercepat regenerasi.

Kami tak mau sembunyi,

Kami harus sembunyi,

Atau mati…

Aku malu menatap hari

Tak adalagi harga diri,

semua telah aku letakkan di telapak kaki mu,

Tak ada lagi malu,

Aku tersenyum, kau injak kepalaku yang mencumbu punggung kaki.

Mengapa malam begitu tega merengut satu-satunya kebahagiaanku.

Menggantikannya dengan kelambu kelam.

Senyum itu hampir sempurna di secarik mimpi.

Salahkah bila aku yang hina ini ingin bersanding dengan mimpi?

Mengapa tak pernah ada jawab,

Tak ada bunyi,

Aku hanya ingin kalian tahu, dengan tulus ku berujar, maaf yang ku cari.

Khilafku harus ku tebus,

Berapapun harga yang harus ku bayar,

Meski harus menyelupkan kepala ke dalam jamban.

Mengapa ia tak mau peduli?

tamasya hitam-putih

sebotol anggur digenggaman gembalakan khayal tiada ujung,
seakan firdaus terlukis begitu nyatanya.
sketsa buram tercetak di diary malaikat,
hina!
mungkin menurut sebagian orang bersorban putih tak lebih sampah.
ahh.
persetan dengan semua dogma,
bahkan mereka para pencetus tak bisa sejalan dengan semilir kata dalam batin.
permata membuat semua buta,
hingga semua tampak kasat mata.pengembaraanku tak berwarna.
meski ribuan bunga tertabur di sana.
teratai tumbuh hiasi rawa,
gerimis runtuh hancurkan cerah.
pemandangan tak seindah semestinya.